Sejarah

Pusaka Madinah dan Ṭariqatul Muḥammadiyaḥ

Salāmun`alaikum wa rahmatullâhi wa barakātuh, Ini semacam pemerkenalan singkat tentang mengapa pengajian tauhid hakiki yang disampaikan Alm. K.H. Undang Sirad di Majlis Talim Al-Wahidiyah Pontianak, disebut pengajian Pusaka Madinah. Di sini juga akan coba diuraikan mengenai kaitan pengajian ini dengan Tariqatul Muhammadiyah yang mungkin insan tauhidi baru dengar. Sebenarnya tarikat dengan penghulu utamanya langsung Nabi Muḥammad Rasulullâhﷺ itu benar-benar ada dan benar adanya.

Tauhid dan Tauhid Hakiki

Bagaimana nabinya, demikian umat sejatinya. Orang Islam yang beriman kepada Allâhﷻ dan beribadah mengikuti syariat Nabi Muḥammad Rasulullâhﷺ dikatakan sebagai orang yang bertauhid. Dikatakan bertauhid karena dalam hidupnya orang ini tidak menyembah tuhan-batal dan tidak melakukan ritual penyembahan selain yang dicontohkan Nabi Muḥammad Rasulullâhﷺ. Artinya, orang yang bertauhid ialah orang yang amal ibadahnya terbebas dari syirik jali (nyata) dan syirik khafi (halus). Contoh syirik jali: menyembah patung, kuburan, memakai jimat, rajah, dsb. Contoh syirik khafi: ujub, riya, sum`ah, takabur, dsb.
Di sisi lain, ada juga tingkatan orang yang bertauhid hakiki, yaitu orang yang amal ibadahnya selain sudah terbebas dari syirik jali dan syirik khafi, juga terbebas dari syirik khafi khafiyyun khafi (syirik yang halus terlebih halus). Apa contohnya syirik yang paling halus ini? Yaitu merasa ada diri.
Gambaran mengenai syirik paling halus ini akan lebih mudah dipahami dari perkataan Imam Al-Ghazali yang dilengkapkan oleh Alm. K.H. Undang Sirad menjadi sebagai berikut:

“Setiap manusia binasa, kecuali orang berilmu; orang berilmu pun binasa, jika tidak mengamalkan ilmunya, orang yang mengamalkan ilmu pun binasa, jika tidak disertai ikhlas, orang ikhlas pun binasa, jika masih merasa keakuan diri: masih ada maksiat batin.”

Memang tidak mudah ya, tetapi bukan mustahil kalau Allâhﷻ sudah berkehendak atas diri kita. Itulah sebabnya cukup istiqamah kita berproses saja, soal hasilnya itu urusan Allâh Yang Maha Bijaksana.

Dari uraian di atas, mudah-mudahan sekarang sudah jelas jenjang “kurikulum” kebertuhanan Islam dalam rangka sebenar-benar meneladani kualitas kenabian (menjadi khalifah di muka bumi) itu berupa Ilmu tauhid: membersihkan syirik jali dan syirik khafi bagi kalangan muslim dan mukmin. Ilmu tauhid hakiki: membersihkan syirik khafi khafiyun khafi bagi kalangan muhsin.

Nah, kalau sudah paham perbedaan antara tauhid dan tauhid hakiki, mari kita ke menu utama artikel ini. Selamat menikmati. Hehe.

Ṭariqatul Muḥammadiyaḥ​

Awalnya saya mengira tarikat Muhammadiyah ini hanya candaan alm. K.H. Undang Sirad di pengajian sebab pertama kali saya mendengar nama tarikat ini ketika beliau berseloroh kurang-lebih seperti ini,
“Kita ini bukan tarikat. Kalau orang tanya apa tarikat kita, bilang kita bukan tarikat. Tapi kalau orang tak percaya juga kita bukan tarikat, katakan saja Tarikat Muhammadiyah. Tarikat yang penghulunya nabi langsung, bukan si ini-si itu yang masih kelas umat.”

Selang beberapa tahun kemudian (saya tidak ingat persis), barulah saya tahu di pengajian ini ada kumpulan doa dan zikir harian yang diamalkan setiap usai salat lima waktu. Isinya berupa doa dan zikir pendek khusus untuk setiap waktu salat. Jadi doa dan zikir usai subuh berbeda dengan doa dan zikir usai zuhur, aṣar, maġrib, dan isya. Kumpulan doa dan zikir itu berjudul “Ṭariqatul Mukasyafatur Rubbubiyah” yang kalau diterjemahkan menjadi Jalan Penyingkapan Hijab Ketuhanan. (Sayang sekali kopian kumpulan doa dan zikir milik saya tercecer waktu saya bermusafir di Surabaya)

Di bagian pengantar kitab itu tertulis sesuatu yang membuat saya tercengang campur senang. Kalimatnya kurang-lebih seperti ini: Amalan zikir dan doa ini adalah tariqatul Muhammadiyah diijazahkan dari Nabiullah Khidir a.s. [Mohon sabar dulu. Jangan langsung nyengir takpercaya. Memang banyak di luaran sana yang mengaku pernah bertemu dan bergurukan Nabi Khidr a.s. Tapi yang benar-benar bertemu dengan yang berkhayal itu bisa dibedakan. Kalau benar-benar sudah bertemu Nabi Khidr a.s. pasti mewarisi ilmu hikmah beliau yang tidak bertentangan dengan Quran dan sunnah. Di situs www.pusakamadinah.org diberi bocoran sedikit mengenai ilmu “bahasa cahaya” dari Nabi Khidr ini.]
 

Di kitab kumpulan doa dan zikir itulah saya juga menemukan urutan sanad tarikat ini. Rupanya tergolong kategori sanad aly, yaitu sanad yang jumlah orang-orang terlibat dalam mata rantainya lebih sedikit dan kesemua orang tersebut adalah orang-orang terpercaya (tsiqah). Berikut ini urutan sanadnya:

  1. Nabi Muḥammad Rasulullâhﷺ
  2. Nabi Khidr a.s.
  3. Abdul Aziz ad-Dabarq
  4. Abdul Wahab at-Tazi
  5. Ahmad bin Idris
  6. Muhammad Sanusi
  7. Muhammad Mahdi
  8. Muhammad Idris
 

Jujur, selain dua nama teratas, saya tidak kenal dan tidak tahu-menahu siapa para beliau itu. Saya tidak pernah bertanya dan Guru Undang Sirad pun tidak pernah membicarakannya. Hanya ini yang saya ketahui tentang tarikat Muhammadiyah ini.

Informasi mengenai sejarah dan segala pernak-pernik lain yang biasa ada di AD/ART tarikat-tarikat tampaknya tidak ada di sini. Adapun yang saya cermati sistem pengajian kami di Majlis Ta`lim Al-Wahidiyah, Pontianak, benar-benar tidak ada bedanya dengan pengajian biasa. Tidak ada protokoler sebagaimana di tarikat-tarikat umumnya.
Gambaran ‘pengajian biasa’-nya seperti ini:
 
  • Pengajian ini terbuka untuk umum. Siapa saja boleh masuk dan ikut belajar kapan saja. Tidak ada acara pendaftaran dulu apalagi dengan menyerahkan mahar-mahar segala. Tinggal datang, duduk, mendengarkan, dan mencatat kalau mau.
  • Tidak ada penjenjangan berupa peng-kelasan maqam-maqam tertentu untuk para hadirin pengajian. Yang berhak menentukan pencapaian maqam-maqam itu Allâhﷻ, bukan makhluk. Yang baru pertama hadir di pengajian dan dengan yang lama ikut pengajian dan yang sudah mengambil ijab-kabul berbaur jadi satu. Materi ajarnya pun sama. Bahasan apa yang dibawakan Guru malam itu, ya itulah yang didapat semua orang. Tidak ada pembedaan pangkat murid pengajian yang disebut khalifah kalau di tarikat umumnya. Semua sama saja dan sederajat.
  • Guru Undang kalau mengajar berpakaian baju koko dan peci biasa, tidak pernah saya lihat beliau pakai gamis dan bersorban, apalagi pakai jas kebesaran ciri khas tarikat (karena memang tidak pernah ada hehe). Para hadirin pun tidak diwajibkan berpakaian khusus, datang mengaji pakai kaos oblong bercelana jins tanpa peci juga tidak akan ada yang usil menegur.
  • Guru dan kami sama-sama lesehan duduk bersila di lantai. Tidak ada kursi kebesaran atau mimbar khusus mursyid tarikat. Adab pada Guru cukup dengan mengucapkan salam lalu mencium tangan beliau. Itu saja. Tidak ada larangan memandang wajah guru dan tidak ada acara musti jalan ngesot dari depan pintu dulu untuk bersalam pada beliau.
  • Rumah kediaman beliau pun terbuka untuk seluruh murid kapan saja. Tidak hanya di waktu pengajian. Setiap bagian rumah bebas dimasuki. Hanya satu ruangan di rumah beliau yang tidak dimasuki murid, yaitu kamar tidur. (Ya iyalah, buat apa murid masuk-masuk ke kamar pribadi beliau dan isteri? Itu pun bukan ditutup dengan pintu besi berkunci, hanya dibatasi kain yang sering disampir ke dinding. Jadi kami tahu seperti apa tempat belaiau beristirahat. Serba biasa tiada yang istimewa.)
  • Kami juga sering makan bersama Guru dan tidak pernah ada acara air kobokan bekas guru jadi rebutan untuk diminum para murid. Jijiklah..air kobokan bukan untuk diminum! hahaha.
Dari situlah saya berpikir, mungkin seperti itulah letak kemuhammadiyahan tarikat ini. Yang membedakannya dengan pengajian Nabi Muḥammad Rasulullâhﷺ dulu mungkin hanya sebutan guru-murid. Itu pun di kami tampaknya sekadar mengikuti adat kekinian setempat dalam hal transfer ilmu agama.

Pusaka Madinah

Agak samar juga kaitan antara tarikat Muhammad dengan nama Pusaka Madinah. Yang saya tahu hanya sejarah singkat tentang sanad ilmu tauhid hakiki ini. Itu pun penuh misteri karena dari Nabi Muḥammad Rasulullâhﷺ sampai sekarang, hanya ada dua nama yang disebut-sebut pernah memegang predikat guru untuk ilmu ini. Guru Undang Sirad pun menceritakannya sekilas saja di saat rehat antarsesi pengajian.

Pengajian tauhid hakiki ini disebut Pusaka Madinah bermula dari sejarah hijrah Rasulullâhﷺ dari Mekah ke Madinah. Taklama setelah hijrah, konon Rasulullâhﷺ ditanya oleh salah seorang penghulu kaum Anṣar tentang apa ajaran yang beliau bawa itu. Dikisahkan Rasulullâhﷺ lalu mengajarkan Islam dari A sampai Z pada pemuka kaum Anṣar itu. Singkat cerita, penghulu kaum Anṣar tersebut menerima dan mengamalkan ajaran Rasulullah saw. itu sampai “jadi”. Dari situlah kami mengenal ada nama wali pertama, yaitu Wali Sanusi. Dari situ juga kami mengetahui ternyata predikat kewalian itu sudah ada di era kenabian Nabi Muḥammad Rasulullâhﷺ. [Saya tidak tahu apakah Wali Sanusi ini maksudnya Muhammad Sanusi di urutan sanad tarikat Muhammadiyah di atas atau bukan].

Sejalan dengan redupnya era kenabian, selama beratus tahun ilmu Pusaka Madinah ini hilang ditelan zaman. Baru kemudian muncul lagi di Turki era keemasan kekhalifahan Utsmani, pemegangnya adalah Sayyid Muhammad di Istanbul. Lalu waktu berjalan terus sampai akhirnya ilmu Pusaka Madinah ini hilang dari permukaan sejarah sampai timbul lagi dan diajarkan di Indonesia.
 
Hanya itu sejarah Pusaka Madinah yang saya tahu. Sulit melacak Sayyid Muhammad di era Utsmani itu yang mana. Pernah kami temukan di google lukisan salah satu keluarga kekhalifahan Turki dengan nama itu, tapi kami juga tidak yakin benarkah beliau orangnya.
 

Tanah Hijaz - Turki - Indonesia: “Ujung barat, tengah, dan ujung timur syiar tauhid hakiki.”

Pesan-pesan Sublim dari Cara Pengajaran Tauhid Hakiki Pusaka Madinah

Berdasarkan pengalaman selama belajar tauhid di bawah bimbingan alm. K.H. Undang Sirad dikaitkan dengan samarnya informasi sejarah Tarikat Muhammadiyah dan Pusaka Madinah ini, saya mulai berpikir mengapa begitu berbeda dengan komunitas di luar sana yang cenderung mengedepankan dulu panji tarikat lengkap dengan pajangan foto para guru mulia dengan sanad yang amat panjang itu? Apakah karena pengajian tauhid hakiki ini pengajian kelas kampung yang dipimpin oleh kyai yang tidak terkenal? Tapi kok saya melihat inti pengajaran tauhid di sini tidak ada di sana? Bahkan kebanyakan paham tauhid hakiki dari sini yang meluruskan dan memperhalus pahaman di luaran sana?

Selama saya belajar di pengajian ini, yang dikedepankan itu Islamnya, bukan nama tarikatnya. Nama yang disebut-sebut pun paling banyak nama Muhammad (ﷺ). Hampir tidak pernah disebut nama Khidr a.s. padahal pengajian ini juga belakangan diketahui bersanad pada beliau. Alm. Guru Undang Sirad seperti sengaja tidak membesar-besarkannya, bahkan cenderung merahasiakannya. Hal ini persis dengan cara beliau (alm. Guru Undang Sirad) merahasiakan garis nasabnya yang belakangan diketahui terhubung dengan Sunan Gunung Djati, juga dengan keluarga ningrat Banten, juga terhubung nasab dengan pribadi muslim bumi priangan terdahulu, salah seorang putera Prabu Siliwangi yang lebih dikenal dengan julukan Ki An San Tang yang legendaris itu.
 
Rahasia garis nasab ini pun baru terbongkar setelah salah seorang murid secara tidak sengaja menemukan nama kakek alm. Guru Undang di data silsilah Sunan Gunung Djati di internet lengkap dengan daftar kitab tauhid yang diajarkan dari silsilah itu. Ketika data-data ini dikonfirmasikan pada alm. Guru Undang, beliau tidak bisa berkelit lagi. Beliau alm. Guru Undang akhirnya mengatakan memang sejak dari kakek beliau, keluarga ini melepaskan keningratan dan menyembunyikan kehabiban untuk terjun di jalan ketuhanan. Tabarakallâh. Allâhnya, Muḥammadnya, Islamnya, tauhidnya, yang dikedepankan. Yang lain, urusan belakangan. Kerangka berpikir seperti itulah yang akhirnya saya adopsi dari beliau alm. Guru Undang.
 
Di awal-awal share di blog pribadi yang kala itu bertajuk Muxlimo’s Lair, saya hanya menuliskan nama Syaikh Sirad di akhir tulisan tanpa menyertakan informasi apa pun mengenai siapa beliau ini. Sampai suatu hari di komentar blog, ada yang menyangka jangan-jangan Syaikh Sirad ini nama guru gaib (jin khadam) yang mengajari saya ilmu tauhid. Otida! Hahaha! Akhirnya saya buat biodata singkat beliau di blog untuk mencegah fitnah lebih lanjut.
 
Kesan keserba-misterian yang ada pada pengajian dan kepribadian Guru saya pandang sekadar wujud kerendahan hati saja, tidak lebih. Tapi kemudian jendela wawasan baru terbukakan. Dari keisengan berselancar di youtube, saya menemukan film dokumenter The Arrivals yang membongkar habis keculasan Dajjal di sekeliling kita semua. Saya jadi tahu ada Syaikh Imran Nazar Hosein dengan syiar eskatologi Islamnya, sampai membaca untuk pertama kali hadis soal masa paceklik 3 tahun di awal kemunculan Dajjal. Di situ disebutkan makanan dan minuman kaum mukmin adalah zikrullâh. Di titik inilah saya sadar. Inilah rupanya amanah berat yang diemban setiap guru tauhid hakiki!
 
Hei murid-murid K.H. Undang Sirad, sudah cukup Guru kita memberi isyarat. Nama ilmunya saja disebut Pusaka Madinah. Siapalah pemuka kota Madinah terdahulu itu? Jawabnya ada pada nama tarikat kita.

Kembali ke topik.
Sanad utama pengajian Pusaka Madinah dan Ṭariqatul Muḥammadiyah adalah Nabi Muḥammad Rasulullâhﷺ (dan Nabi Khidr a.s. yang misterius). Kita ambil analogi dari tarikh, sebelum wafat beliau tidak pernah menunjuk siapa pun sebagai pengganti tampuk kepemimpinan umat pada siapa pun. Bukan hanya karena beliau adalah khatamul anbiya, melainkan insyaallâh juga dengan kesadaran bahwa tidak ada yang akan sanggup menanggung amanah Muhammad selain pribadi Muhammad ibnu Abdullah seorang. Apabila pribadi Muhammad menunjuk seseorang untuk menjadi penerus, artinya amanah ke-Muhammad-an menjadi beban orang itu. Ini tidak adil dan sama saja dengan menjerumuskan. Abu Bakar tidak akan sanggup, Umar tidak akan sanggup, Utsman tidak akan sanggup, Ali tidak akan sanggup menanggung amanah ke-Muhammad-an. Ditambah lagi fakta bahwa beliau diutus menjadi Nabi itu atas kehendak Allâhﷻ, bukan penunjukkan manusia.

Apa sandarannya?
Dalam khutbah terakhir di padang Arafah usai melaksanakan haji wada, Nabi Muhammad Rasulullâhﷺ mewasiatkan hal-hal penting dan utama untuk disampaikan. Sampai-sampai dalam khutbah di hadapan sekira 90.000 umat itu beliau mewanti-wanti agar pesan ini disampaikan lagi pada siapa pun yang tidak hadir di situ. Dalam khutbah terakhir dan terpenting itu beliau sama sekali tidak mengumumkan siapa di antara para sahabat utama yang ditunjuk untuk memimpin umat sepeninggal beliau.

Tentu Nabi Muḥammad Rasulullâhﷺ bukan seorang yang lalai lagi ceroboh. Mustahil beliau mengumumkan penunjukkan penerus syiar Islam hanya pada segelintir orang saja. Itu jelas-jelas akan menimbulkan fitnah dan prahara besar di tubuh umat. Semoga kalangan syiah yang membaca tulisan ini berpikir jernih dan bertobat. Cek dan ricek lagi dengan baṣirah akan kebenaran riwayat yang kalian pegang selama ini. Kalau tidak dengan baṣirah, kecil kemungkinan kalian sadar, bertobat, dan kembali Islam.
 

Analogi ini juga tampaknya berlaku bagi suksesi di Pusaka Madinah. Silakan di-iqra, dari masa Wali Sanusi di Madinah era kenabian ke Sayyid Muhammad di Turki era Utsmani itu ada rentang berapa ratus tahun? Siapa yang menunjuk siapa jadi mursyid pengajian ini? Itu sebabnya sepeninggal alm. Guru Undang Sirad ditetapkan sebagai mursyid pamungkas di Pusaka Madinah. Paling sedikit perlu menunggu 300 tahun lagi baru ada. Tapi coba dipikir, sekarang ini sudah di gerbang perang akhir zaman. Syria dan Yaman itu awalnya. Sangat mungkin sudah tidak akan ada lagi mursyid Pusaka Madinah. Yang terakhir bin pamungkas itu guru kita itulah. Tidak akan ada yang sanggup menanggung amanah Allâhﷻ atas diri Undang Sirad selain Undang Sirad seorang.

Apalagi ilmu tauhid yang disampaikan alm. K.H. Undang Sirad selama hidup sudah tuntas sampai ke penghabisan perjalanan ilmu. Sepeninggal alm. K.H. Undang Sirad, kita-kita semua ini hanya menghidupkan terus ajaran ini dengan cara mengulang, menjelaskan kembali, dan mensyiarkan terus apa-apa yang sudah disampaikan almarhum. Tidak ada bahasan yang baru karena semua pernak-pernik ilmu tauhid sudah tuntas disampaikan. Tidak ada varian atau perombakan dari pakem ajaran yang sudah beliau ajarkan selama ini. Ingat lagi, ilmu tauhid yang disampaikan alm. K.H. Undang Sirad selama hidup sudah tuntas sampai ke penghabisan perjalanan ilmu.
 

Urusan kita banyak, jalani hidup sambil sama-sama ajak sesama umat persiapkan akhir zaman. Pasukan Imam Mahdi yang konon 313 orang itu sedikit-banyak tetap ada dari kalangan hakiki, lawannya ‘kan Dajjal yang ahli tipu-daya dan serba bisa karena diberi istidraj Allâh berupa penguasaan elemen-elemen alam. Hanya kalangan hakiki yang sanggup menghadapi si laknatullah itu.

Tidak usah “gede rasa” bahwa Imam Mahdi itu salah satu dari kalangan kita. Cukup pikirkan jatah yang jelas saja, 313 jundullâh Mahdi. Tidak musti semuanya dari kalangan kita juga, cukup satu orang dari anak-cucu kita mewakili, jadilah. Āmīn.
 
Inilah amanah berat setiap guru tauhid hakiki terdahulu, bukan hanya urusan tajalli saja. Inilah amanah sesungguhnya di pundak-pundak pelajar tauhid hakiki sepeninggal para guru. Siapa pun Anda muslim yang sudah terpanggil ke arah tauhid hakiki, baik yang duduk belajar langsung, sudah ijab-abul atau belum, bahkan yang hanya tahu tauhid hakiki dari membaca di internet, ada amanah akhir zaman pada pundak kita untuk melahirkan generasi hakiki yang membawa ilmu hakiki ini pulang ke kampung halaman di tanah suci. Kembali ke kejayaan ketuhanan memenuhi sekalian alam. Āmīn.
Astagfirullâhal`azim. La ilāha illā Anta. Subḥānaka. Inni kuntu minaz-zālimīn. Wabillāḥit tawfiq wal hidayah. Wassalāmun`alaikum wa raḥmatullâḥi wa barakātuḥ.
 

Adam Troy Effendy

Admin Pusakamadinah.org
Author Buku Ilmu Sedikit Untuk Segala2nya

Ini adalah tulisan subjektif berdasarkan pengalaman dan pengamatan pribadi, tentu sifatnya pengabaran, bukan pengajaran. Hanya Allâhﷻ yang Bersifat Maha Mengetahui. Tulisan subjektif ini bukan untuk keperluan promosi pengajian juga bukan buat gaya-gayaan, melainkan sekadar memperkenalkan sebagaimana adanya. Apa adanya. Terima-tidak terima, itu urusan Anda. Jangan marah-marah kalau yang disampaikan di sini tidak tercantum di buku-buku sejarah. Sekali lagi ini tulisan subjektif-empirik apa adanya. Terima-tidak terima, itu urusan Anda.

Untuk Anda Yang Ingin Mempelajari dan Memahami Kajian Tauhid Hakiki

Silahkan Baca Buku Tauhid :

Ilmu Sedikit Untuk Segala2nya

Dasar Dasar Tauhid Hakiki

STOK BUKU TERBATAS!